09 November 2010

Labioskizis, Labiopalatoskizis, Atresia Esofagus, Atresia Rekti

BAB I
LABIOSKIZIS DAN LABIOPALATOSKIZIS
A. PENGERTIAN
Labioskizis dan Labiopalatoskizis yaitu kelainan kotak palatine (bagian depan serta samping muka serta langit-langit mulut) tidak menutup dengan sempurna. Labioskizis dan labiopalatoskizis merupakan deformitas daerah mulut berupa celah atau sumbing atau pembentukan yang kurang sempurna semasa perkembangan embrional di mana bibir atas bagian kanan dan bagian kiri tidak tumbuh bersatu.
Belahnya belahan dapat sangat bervariasi, mengenai salah satu bagian atau semua bagian dari dasar cuping hidung, bibir, alveolus dan palatum durum serta molle. Suatu klasifikasi berguna membagi struktur-struktur yang terkena menjadi :
1. Palatum primer meliputi bibir, dasar hidung, alveolus dan palatum durum dibelahan foramen incisivum
2. Palatum sekunder meliputi palatum durum dan molle posterior terhadap foramen.
Suatu belahan dapat mengenai salah satu atau keduanya, palatum primer dan palatum sekunder dan dapat unilateral atau bilateral.
Kadang-kadang terlihat suatu belahan submukosa, dalam kasus ini mukosanya utuh dengan belahan mengenai tulang dan jaringan otot palatum.

B. TANDA DAN GEJALA
Ada beberapa gejala dari bibir sumbing yaitu :
1. Terjadi pemisahan langit – langit
2. Terjadi pemisahan bibir
3. Terjadi pemisahan bibir dan langit – langit.
4. Infeksi telinga berulang.
5. Berat badan tidak bertambah.
6. Pada bayi terjadi regurgitasi nasal ketika menyusui yaitu keluarnya air susu dari hidung.

C. PENATALAKSANAAN
Penanganan untuk bibir sumbing adalah dengan cara operasi. Operasi ini dilakukan setelah bayi berusia 2 bulan, dengan berat badan yang meningkat, dan bebas dari infeksi oral pada saluran napas dan sistemik. Dalam beberapa buku dikatakan juga untuk melakukan operasi bibir sumbing dilakukan hukum Sepuluh (rules of Ten) yaitu, Berat badan bayi minimal 10 pon, Kadar Hb 10 g%, dan usianya minimal 10 minggu dan kadar leukosit minimal 10.000/ui.
1. Perawatan
a. Menyusu ibu
Menyusu adalah metode pemberian makan terbaik untuk seorang bayi dengan bibir sumbing tidak menghambat pengahisapan susu ibu. Ibu dapat mencoba sedikit menekan payudara untuk mengeluarkan susu. Dapat juga mnggunakan pompa payudara untuk mengeluarkan susu dan memberikannya kepada bayi dengan menggunakan botol setelah dioperasi, karena bayi tidak menyusu sampai 6 minggu.
b. Menggunakan alat khusus
1) Dot domba
Karena udara bocor disekitar sumbing dan makanan dimuntahkan melalui hidung, bayi tersebut lebih baik diberi makan dengan dot yang diberi pegangan yang menutupi sumbing, suatu dot domba (dot yang besar, ujung halus dengan lubang besar), atau hanya dot biasa dengan lubang besar.
2) Botol peras
Dengan memeras botol, maka susu dapat didorong jatuh di bagian belakang mulut hingga dapat dihisap bayi
3) Ortodonsi
Pemberian plat/ dibuat okulator untuk menutup sementara celah palatum agar memudahkan pemberian minum dan sekaligus mengurangi deformitas palatum sebelum dapat dilakukan tindakan bedah definitive
c. Posisi mendekati duduk dengan aliran yang langsung menuju bagian sisi atau belakang lidah bayi.
d. Tepuk-tepuk punggung bayi berkali-kali karena cenderung untuk menelan banyak udara
e. Periksalah bagian bawah hidung dengan teratur, kadang-kadang luka terbentuk pada bagian pemisah lobang hidung
f. Suatu kondisi yang sangat sakit dapat membuat bayi menolak menyusu. Jika hal ini terjadi arahkan dot ke bagian sisi mulut untuk memberikan kesempatan pada kulit yang lembut tersebut untuk sembuh
g. Setelah siap menyusu, perlahan-lahan bersihkan daerah sumbing dengan alat berujung kapas yang dicelupkan dala hydrogen peroksida setengah kuat atau air.
2. Pengobatan
a. Dilakukan bedah elektif yang melibatkan beberapa disiplin ilmu untuk penanganan selanjutnya. Bayi akan memperoleh operasi untuk memperbaiki kelainan, tetapi waktu yang tepat untuk operasi tersebut bervariasi.
b. Tindakan pertama dikerjakan untuk menutup celah bibir berdasarkan kriteria rule often yaitu umur > 10 mgg, BB > 10 pon/ 5 Kg, Hb > 10 gr/dl, leukosit > 10.000/ui
c. Tindakan operasi selanjutnya adalah menutup langitan/palatoplasti dikerjakan sedini mungkin (15-24 bulan) sebelum anak mampu bicara lengkap seingga pusat bicara otak belum membentuk cara bicara. Pada umur 8-9 tahun dilaksanakan tindakan operasi penambahan tulang pada celah alveolus/maxilla untuk memungkinkan ahli ortodensi mengatur pertumbuhan gigi dikanan dan kiri celah supaya normal.
d. Operasi terakhir pada usia 15-17 tahun dikerjakan setelah pertumbuhan tulang-tulang muka mendeteksi selesai.
e. Operasi mungkin tidak dapat dilakukan jika anak memiliki “kerusakan horseshoe” yang lbar. Dalam hal ini, suatu kontur seperti balon bicara ditempl pada bagian belakang gigi geligi menutupi nasofaring dan membantu anak bicara yang lebih baik.
f. Anak tersebut juga membutuhkan terapi bicara, karena langit-langit sangat penting untuk pembentukan bicara, perubahan struktur, juag pada sumbing yamh telah diperbaik, dapat mempengaruhi pola bicar secara permanen.
3. Prinsip perawatan secara umum;
a. Lahir ; bantuan pernafasan dan pemasangan NGT (Naso Gastric Tube) bila perlu untuk membantu masuknya makanan kedalam lambung.
b. Umur 1 minggu; pembuatan feeding plate untuk membantu menutup langit-langit dan mengarahkan pertumbuhan, pemberian dot khusus.
c. Umur 3 bulan; labioplasty atau tindakan operasi untuk bibir, alanasi (untuk hidung) dan evaluasi telinga.
d. Umur 18 bulan - 2 tahun; palathoplasty; tindakan operasi langit-langit bila terdapat sumbing pada langit-langit.
e. Umur 4 tahun : dipertimbangkan repalatorapy atau pharingoplasty.
f. Umur 6 tahun; evaluasi gigi dan rahang, evaluasi pendengaran.
g. Umur 11 tahun; alveolar bone graft augmentation (cangkok tulang pada pinggir alveolar untuk memberikan jalan bagi gigi caninus). perawatan otthodontis.
h. Umur 12-13 tahun; final touch; perbaikan-perbaikan bila diperlukan.
i. Umur 17-18 tahun; orthognatik surgery bila perlu.



BAB II
ATRESIA ESOFAGUS

A. PENGERTIAN ATRESIA ESOFAGUS
Atresia berarti buntu, dengan demikian atresia esofagus adalah kelainan bawaan di mana ujung saluran esofagus buntu, biasanya sebanyak 60% disertai dengan hidramnion.

B. TANDA DAN GEJALA
Tanda dan gejala yang mungkin muncul pada penderita atresia esofagus adalah:
1. Liur yang menetes terus-menerus
2. Liur berbuih
3. Bayi tersedak
4. Bayi tampak sianosis akibat aspirasi yang di alami
5. Bayi akan mengalami batuk seperti tercekik saat bayi diberi minum
6. Muntah yang proyektil

C. PENATALAKSANAAN
1. Posisikan bayi setengah duduk apabila atresia esofagus disertai fistula. Namun apabila atresia tanpa disertai fistula bayi diposisikan dengan kepala lebih rendah (trendelenburg) dan seringlah mengubah-ubah posisi.
2. Segera lakukan pemasangan kateter ke dalam esofagus dan bila memungkinkan lakukan pengisapan terus menerus.
3. Berikan perawatan seperti bayi normal lainya, seperti pencegahan hipotermi, pemberian nutrisi adekuat, dan lain-lain.
4. Rangsang bayi untuk menangis
5. Lakukan informed consent dan informed choice kepada keluarga untuk melakukan rujukan pada pelayanan kesehatan yang lebih tinggi.


BAB III
ATRESIA ANI
A. PENGERTIAN ATRESIA ANI
Atresia ani (malformasi anorektal/anus imperforate) adalah bentuk kelainan bawaan yang menunjukan keadaan tidak ada anus, atau tidak sempurnanya bentuk anus. Atresia ini terjadi karena tidak adanya lubang di tempat yang seharusnya berlubang. Penyebab atresia ani ini belum diketahui secara pasti.

B. TANDA DAN GEJALA
1. Selama 24-28 jam pertama kelahiran, bayi mengalami muntah-muntah dan tidak ada defekasi mekonium. Selain itu anus tampak merah.
2. Perut kembung baru kemudian disusul muntah.
3. Tampak gambaran gerak usus dan bising usus meningkat (hiperperistaltik) pada auskultasi.
4. Tidak ada lubang anus.
5. Invertogram dilakukan setelah bayi berusia 12 jam untuk menentukan tingginya atresi.
6. Terkadang tampak ileus obstruktif.
7. Dapat terjadi fistel. Pada bayi perempuan sering terjadi fistel rektovaginal. Sedangkan pada bayi laki-laki sering terjadi fistel rektourinal.
8. Untuk mengetahui kelainan pada bayi baru lahir dilakukan colok dubur dengan menggunakan jari kelingking atau dengan tidak keluarnya mekonium dalam 24 jam setelah lahir.

C. PENATALAKSANAAN
1. Puasakan bayi dan ganti dengan pemberian cairan intravena sesuai dengan kebutuhan. Misalnya glukosa 5-10% atau Na-Bikarbonat 1,5%.
2. Pembedahan segera dilakukan, setelah tinggi atresia ditentukan.
3. Eksisi membran anal.
4. Kolostomi sementara dan lakukan perbaikan total setelah 3 bulan.


DAFTAR PUSTAKA
http://www.nityabersama.co.cc/2009/06/labioskizislabiopalatoskizis.html
http://johan17.blogspot.com/2009/11/atresia-rekti-anus-imperforata-dan.html
http://www.drdidispog.com/2010/01/atresia-anus-anus-imferforata.html
Nanny Lia Dewi, Vivian. 2010.Asuhan Neonatus Bayi dan Anak Balita. Jakarta: Salemba Medika

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar